Minggu, 29 September 2019

Manusia Sejati


"Mulai hari ini dengan bersyukur kepada Tuhan untuk segala nikmat yang telah diberiNya Untuk Nafas yang selalu diberiNya setiap detik dengan Gratis."
"Dwi Yunita Sari"



            Hujan yang begitu deras membasahi bumi. Dinginnya udara yang menusuk relung jantung, mengingatkanku dengan sosok manusia sejati yang sederhana. Ialah lelaki tua yang sangat menyayangiku tanpa kenal lelah. Ia adalah ayahku, ayah yang rela meninggalkan keluarganya demi mencari nafkah untuk menghidupkan tiga orang perempuan yang sangat ia sayang. Tak lupa ia selalu memberi kabar walau hanya lima menit. Entah itu menanyakan “Bagaimana hari ini? Menyenangkan?”, dan banyak lagi. Walau aku, ibuku dan kakakku jauh darinya yang terhalang jarak dan keadaan tetapi, beliau tetap berperan sebagai ayah yang bertanggung jawab.

            Suatu ketika ayahku pulang untuk menemui kami dengan membawa sejuta kerinduan. Tentu, kami sangat senang. Semua cerita kami tumpahkan kepadanya. Dimulai dengan diriku yang menawarkan segelas teh hangat kepadanya untuk meredakan lelahnya di perjalanan. Lalu ia kembali menawarkanku untuk duduk disampingnya dan memancingku untuk bercerita kepadanya tentang apapun itu. Aku mulai bercerita  kepada ayahku bahwa aku sedang menyukai seorang laki-laki di sekolahku. Aku menceritakan semua tentang lelaki itu kepada ayahku. Lalu, aku melihat wajah ayahku yang sedang mendengarkan ceritaku, ia tersenyum dan meneteskan air mata. Jujur, aku tak mengerti mengapa tiba-tiba ayahku menangis. Lalu aku bertanya kepadanya “Ayah, mengapa ayah menangis? Aku benar-benar minta maaf jika perkataanku melukai hati ayah”. Dan ayahku mengusapkan kepalaku dengan tangan hangatnya, “Tidak, kamu tidak melukai hati ayah. Aku bahagia jika kau bahagia, nak. Kau menyukai seseorang lawan jenismu. Dengarkanlah anakku, kau boleh menyukai lelaki itu tetapi, ingatlah kau tetap fokus dengan pendidikanmu. Jadikan ia sebagai penyemangatmu belajarmu. Jangan mengikat cinta diantara kalian sebelum pendidikanmu tamat. Pecayalah nak, jika kau dan dia berjodoh, Allah akan mempertemukan kalian dipelaminan yang menyatukan kalian dengan cara yang halal, membangun rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warohmah. Aku selalu mendo’akanmu, ku ingin kau mendapatkan laki-laki terbaik, bertanggung jawab, amanah dan tidak membiarkanmu meneteskan air mata kesedihan dan juga bisa menggantikan poisiku di kehidupanmu yang selalu membahagiakanmu. Ayah melarangmu untuk berpacaran, karena ayah takut kamu seperti remaja-remaja di luar sana yang melenceng mengikuti gaya hidup negatif dan ayah juga tahu dengan sifatmu yang begitu lemah, kau belum siap menerima apa sebenarnya arti kasih sayang dan penghianatan cinta dari makhluk asing itu. Belajarlah dari pengalaman orang tuamu nak. Jadilah putri ku yang tangguh dan manusia sejati dengan mudah menerima kenyataan hidup”.
Itulah yang dikatakan oleh ayahku. Dengan mendengar itu semua, aku sangat senang mempunyai orang tua seperti ayahku yang selalu mengarahkan dan memberi motivasi kepada anaknya. Aku bersyukur, aku adalah putri  kecilnya yang disayangi oleh ayahku dengan model sederhana dan sabar membesarkanku, selalu semangat mengajariku serta menuntunku tentang arti kehidupan yang sebenarnya.

Penulis : Dwi Yunita Sari



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAUT

 Maut itu tidak tiba, maut itu tidak menjemput. Namun Maut sangat dekat dengan kita bahkan menyertai dimana dan kemanapun kita. ingat selalu...