"Mulai hari ini dengan bersyukur kepada Tuhan untuk segala nikmat yang telah diberiNya Untuk Nafas yang selalu diberiNya setiap detik dengan Gratis."
"Dwi Yunita Sari"
"Dwi Yunita Sari"
Hujan
yang begitu deras membasahi bumi. Dinginnya udara yang menusuk relung jantung,
mengingatkanku dengan sosok manusia sejati yang sederhana. Ialah lelaki tua
yang sangat menyayangiku tanpa kenal lelah. Ia adalah ayahku, ayah yang rela
meninggalkan keluarganya demi mencari nafkah untuk menghidupkan tiga orang
perempuan yang sangat ia sayang. Tak lupa ia selalu memberi kabar walau hanya
lima menit. Entah itu menanyakan “Bagaimana hari ini? Menyenangkan?”, dan
banyak lagi. Walau aku, ibuku dan kakakku jauh darinya yang terhalang jarak dan
keadaan tetapi, beliau tetap berperan sebagai ayah yang bertanggung jawab.
Suatu
ketika ayahku pulang untuk menemui kami dengan membawa sejuta kerinduan. Tentu,
kami sangat senang. Semua cerita kami tumpahkan kepadanya. Dimulai dengan
diriku yang menawarkan segelas teh hangat kepadanya untuk meredakan lelahnya di
perjalanan. Lalu ia kembali menawarkanku untuk duduk disampingnya dan
memancingku untuk bercerita kepadanya tentang apapun itu. Aku mulai
bercerita kepada ayahku bahwa aku sedang
menyukai seorang laki-laki di sekolahku. Aku menceritakan semua tentang lelaki
itu kepada ayahku. Lalu, aku melihat wajah ayahku yang sedang mendengarkan
ceritaku, ia tersenyum dan meneteskan air mata. Jujur, aku tak mengerti mengapa
tiba-tiba ayahku menangis. Lalu aku bertanya kepadanya “Ayah, mengapa ayah
menangis? Aku benar-benar minta maaf jika perkataanku melukai hati ayah”. Dan
ayahku mengusapkan kepalaku dengan tangan hangatnya, “Tidak, kamu tidak melukai
hati ayah. Aku bahagia jika kau bahagia, nak. Kau menyukai seseorang lawan
jenismu. Dengarkanlah anakku, kau boleh menyukai lelaki itu tetapi, ingatlah
kau tetap fokus dengan pendidikanmu. Jadikan ia sebagai penyemangatmu
belajarmu. Jangan mengikat cinta diantara kalian sebelum pendidikanmu tamat.
Pecayalah nak, jika kau dan dia berjodoh, Allah akan mempertemukan kalian
dipelaminan yang menyatukan kalian dengan cara yang halal, membangun rumah
tangga yang sakinah, mawadah dan warohmah. Aku selalu mendo’akanmu, ku ingin
kau mendapatkan laki-laki terbaik, bertanggung jawab, amanah dan tidak
membiarkanmu meneteskan air mata kesedihan dan juga bisa menggantikan poisiku
di kehidupanmu yang selalu membahagiakanmu. Ayah melarangmu untuk berpacaran,
karena ayah takut kamu seperti remaja-remaja di luar sana yang melenceng
mengikuti gaya hidup negatif dan ayah juga tahu dengan sifatmu yang begitu
lemah, kau belum siap menerima apa sebenarnya arti kasih sayang dan
penghianatan cinta dari makhluk asing itu. Belajarlah dari pengalaman orang
tuamu nak. Jadilah putri ku yang tangguh dan manusia sejati dengan mudah
menerima kenyataan hidup”.
Itulah
yang dikatakan oleh ayahku. Dengan mendengar itu semua, aku sangat senang
mempunyai orang tua seperti ayahku yang selalu mengarahkan dan memberi motivasi
kepada anaknya. Aku bersyukur, aku adalah putri
kecilnya yang disayangi oleh ayahku dengan model sederhana dan sabar
membesarkanku, selalu semangat mengajariku serta menuntunku tentang arti kehidupan
yang sebenarnya.
Penulis : Dwi Yunita Sari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar