Di pagi hari yang sejuk dan rindang. Aku bermain ayunan buatan ayahku diwaktu kecil, yang setia menemaniku hingga aku dewasa. Sambil ditemani kicauan burung dan sebuah cerita dari Bunda, gurauan ayah, dan suara tertawa kakakku.
Tiba - tiba ada seorang lelaki muda yang terlihat gagah datang menyapa kami yang sedang di halaman rumah. Pria itu tersenyum cerah melihat kakakku, aku melirik melihat kakakku dia tersipu malu dan rona pipinya terlihat sangat jelas. Ayah menghampiri pemuda itu lantas bertanya "Ada apa kau datang kemari wahai pemuda?". Pemuda itu menjawab "Saya ingin bertemu dan berbicara dengan bapak". Ayah mempersilahkan pemuda itu masuk dan mereka duduk di ruang tamu, tak lama setelah itu ibu beranjak membuatkan minuman untuk mereka.
Kakak yang sedari tadi memperhatikan pemuda itu sampai - sampai tidak mengindahkan pertanyaanku. Lantas aku kesal dan menyenggol kakakku sambil mengejeknya, dia tersipu malu dan memarahiku. Ayah yang memperhatikan kami nampak bingung yang terlihat di raut wajahnya. Pemuda itu membuka suara "Bapak saya datang kesini untuk meminta izin untuk meminang anak tertua bapak" . "Oalah pantas saja dari tadi teteh ngeliatin terus, kasep aa nya mau dipinang lagi" Celetukku dari belakang kaka yang baru saja melewati ayah dan pemuda itu di ruang tamu. Kaka tersenyum malu lalu kaka dipanggil ayah untuk duduk disebelahnya dan aku ikutan kaka duduk tapi di sebelah pemuda itu.
"Kumaha teh?" Tanya ayah kepada kaka. Kaka hanya membalas tersenyum. Lalu ayah lanjut berbicara kepada pemuda itu "Bapak tidak masalah selama si teteh bahagia tapi perlu kamu ketahui nak orang yang pertama memeluknya adalah aku, yang pertama menciumnya adalah aku, yang pertama merawatnya adalah aku". Suasana menjadi haru dan aku melihat ayah meneteskan air mata lalu menyekanya dan lanjut berbicara "Tapi aku harap kamu (calon menantuku) adalah yang terakhir menemani putriku seumur hidup. Jangan sakiti dia apalagi perasaannya. Namun jika suatu hari nanti kamu tidak lagi mencintainya jangan beritahu dia, tapi beritahu lah aku. Aku akan membawanya pulang".
Aku meneteskan air mata dan langsung berlari kecil ke ayah sambil memeluk beliau, kaka hanya terdiam dan meneteskan air mata tapi ia buru-buru menyekanya supaya kami tidak melihatnya. Lalu Bunda datang dan ikut duduk di sebelah kaka sambil memeluknya. Pemuda itu hanya mengangguk sambil tersenyum mendengar pesan dari ayahku.
Inti : "Laki - laki sejati yang benar benar mencintai perempuannya itu datang dengan niat baik kerumah perempuan pujaannya berbicara kepada orang tuanya dengan niat untuk serius menikah."
Penulis : Andien Putri Ramadhani
Iyeu naonn atuh awoawoaowkaowk, vn gada ape?
BalasHapusga ada VN adanya ngetik..
Hapus